Pages

Subscribe Twitter Facebook

Kamis, 24 Januari 2013

ANTARA MAJIKAN DAN PEMBANTU

Kita menyimpulkan bahwa karena tingkat pendidikan, karena bakat dan kapasitas pribadi, maka Pak A mampu menjadi direktur, sementara Pak B hanya mampu menjadi sopirnya.
Kalau misalnya saya seorang yang sangat berkuasa, dan memerintahkan agar Pak Direktur mulai hari ini menjadi sopir dan Pak Sopir menjadi direktur, maka Pak A mungkin berkata begini: “Bukan saya tidak mampu, tapi saya tidak mau”.
Kita menyimpulkan bahwa menjadi sopir atau buruh kecil apapun itu gampang, sehingga sangat tidak menyulitkan pak direktur, pak menteri atau pak komisaris untuk melakukannya.
Mereka sangat mampu, tapi seumur hidup tak akan pernah mau, sehingga akhirnya ketidak-mauan itu sesungguhnya adalah juga ketidak-mampuan.
Saya sendiri pasti tidak mampu bekerja sebagai pembantu rumahtangga: seharian bekerja, mencuci, memasak, siap disuruh apa saja, rela dibangunkan jam berapapun untuk memenuhi keperluan juragan.
Maka bukan saja para pembantu rumah tangga itu tidak kalah unggul atau tidak lebih rendah dibanding saya. Saya malah curiga saya yang kalah unggul dibanding para pembantu rumahtangga. Mereka tiap saat menjamin keberesan dan kegembiraan rumahtangga saya, sedangkan saya tidak pernah bertanya apa bunyi perasaan mereka.

0 komentar:

Posting Komentar